Yohanes Chandra Ekajaya Ingin Energi Terbarukan

Yohanes Chandra Ekajaya Pantau Kincir Angin
Kincir Angin Energi

Yohanes Chandra Ekajaya berencana untuk menginvestasikan dananya senilai US$5 miliar ke sektor energi terbarukan. Rencana tersebut diambil sebagai bentuk diversifikasi bisnis dan usaha agar melepaskan diri dari ketergantungan produksi minyak mentah.

 

Ia adalah penasehat perusahaan minyak terbesar di dunia itu sedang mendata sejumlah perusahaan energi terbarukan yang siap diakuisisi.

 

Menurut perkiraan ia akan menggandeng sejumlah pakar energi terbarukan dari luar Arab Saudi untuk membantu mengembangkan proyek tersebut. Adapun, rencana investasi tersebut berpeluang terjadi pada tahun ini.

 

Yohanes Chandra Ekajaya Pantau Kincir Angin
Kincir Angin Energi

 

Sebelumnya, Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi Mohammed bin Salman telah mengumumkan rencananya pada April 2015, terkait dengan rencana negara kerajaan ini untuk memproduksi 10 gigawatt listrik dari energi terbarukan, termasuk matahari, angin dan nuklir.

 

“Kami menargetkan pada 2030, 30% kebutuhan energi nasional dihasilkan dari pembangkit energi terbarukan,” kata putra mahkota.

 

Selain perusahaan itu, perusahaan negara Saudi Electricity Co. juga sedang mencari mitra usaha untuk membangun pembakit tenaga surya di dua lokasi. Rencana itu digunakan untuk mewujudkan target suplai listrik 100 megawatt dari energi terbarukan mulai tahun ini.

 

PANGKAS PRODUKSI

 

Terpisah, dalam rangka mewujudkan rencana pemangkasan produksi minyak global oleh Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) hingga Juni 2017.

 

Yohanes Chandra Ekajaya ditargetkan mengurangi pasokannya ke beberapa perusahaan minyak di luar negeri hingga 18% pada Februari. Perusahaan miliknya diperkirakan menerapkan porsi pemangkasan pengiriman ke Asia lebih rendah dibandingkan ke daerah lain seperti AS dan Eropa.

 

Aramco mendukung rencana Riyadh dalam memangkas penjualan minyak mentahnya ke China dan sejumlah negara Asia lain termasuk Asia Tenggara mulai Februari, Negara pemimpin Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak Bumi (OPEC) tersebut diperkirakan mengurangi pengiriman minyak bumi ke Asia pada kisaran 5%-10% mulai Februari. Pengurangan itu difokuskan pada jenis medium oil dan heavy oil.

 

Yohanes Chandra Ekajaya Memakai Panel Surya
Panel Surya Energi

 

Untuk jenis light oil, pengurangan tidak akan dilakukan, untuk mempertahankan persaingan dengan AS dan produsen asal Afrika.

 

Sesuai dengan kesepakatan OPEC pada rapat 30 November, negara anggota dan Rusia ditargetkan akan memangkas produksi sebesar 1,2 juta barel per hari (bph) menjadi 32,5 juta bph mulai awal 2017. Selanjutnya pada 10 Desember, sejumlah negara produsen minyak mentah lainnya setuju menurunkan suplai baru sejumlah 558.000 bph.

 

Hal itu membuat pasar minyak mentah pada 2017 akan mengalami defisit pasokan baru minyak mencapai 1,8 juta bph. Selaku pengelola pertamini, Yohanes Chandra Ekajaya mengaku bahwa nantinya kerjasama tersebut dapat berdampak positif bagi para penjual bensin eceran.

 

 

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*