Pembangunan Tower Transmisi di Abdya Terkendala Lahan

Tower Transmisi

Pembangunan tower transmisi saluran udara tegangan tinggi (SUTT) 150 kilovolt milik PT PLN di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) terkendala pembebasan lahan untuk tiga titik tapak menara. ‘Total keseluruhan tapak menara transmisi yang dibangun di Kabupaten Abdya berjumlah 326 titik. Dari jumlah tersebut tiga titik terkendala pembebasan lahan,” kata Kepala PLN Rayon Blangpidie, Suherman Nazir di Blangpidie, Kamis (9/3).

Suherman menjelaskan, tiga titik lahan pembebasan untuk kebutuhan pembangunan tapak menara tower trasmisi saluran udara tegangan tinggi  yang terkendala tersebut, berada di Desa Keude Paya dan di kawasan permukiman Kuta Tinggi, Kecamatan Blangpidie. Padahal, lanjut dia, lahan seluas 12 x 12 untuk kebutuhan pembangunan tapak menara di Desa Keude Paya, dibayar oleh PT PLN sudah sesuai dengan harga yang ditetapkan oleh Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP), yakni Rp 190 ribu per meter persegi.

Tower Transmisi

“Pemilik lahan tidak setuju dengan harga yang ditetapkan KJP itu. Mereka meminta harga tanahnya Rp350 ribu per meter persegi. Sementara, tim PLN tidak diperbolehkan untuk membayar harga tanah melebihi harga yang telah ditetapkan KJPFT tuturnya. Meskipun demikian, lanjutnya, pihak unit 2 Induk pembangunan PT PLN telah mencoba untuk mengambil kebijakan penambahan harga sebesar Rp20 juta untuk masing-masing lahan, namun pemiliknya masih juga menolak.

“Meskipun sudah diambil kebijakan oleh orang-orang unit 2, pemilik tanah masih juga tetap menolak. Mereka tidak menjual lahannya jika PT PLN tidak membayar harga lahannya sebesar Rp350 ribu per meter persegi,” ujarnya. Untuk jalan keluar; kata dia, PT PLN terpaksa harus mengajukan persoalan terkendalanya pembebasan lahan tersebut ke meja hijau, supaya harga lahan tersebut nantinya dapat dibayar sebagaimana harga yang diputusan oleh pengadilan.

“Persoalan ini harus diajukan ke pengadilan, karena lokasi tapak tower itu tidak bisa dipindah-pindahkan ke lokasi lain. Menara itu kontruksi jadi, makanya tidak boleh berubah, terutama kabel tidak pas dan rentan roboh,” ujarnya. Suherman mengatakan, pembebasan lahan tapak tower di kecamatan lainnya sebelumnya juga terkendala, tetapi bisa diselesaikan melalui pendekatan, sehingga banyak tower-tower transmisi di Abdya saat ini mulai rampung dikerjakan. “Kalau kita dari PLN Rayon Blangpidie ini hanya sebatas fasilitasi. Kita tidak ada wewenang menangani persoalan terkendalanya lahan tapak tower itu. Yang menangani persoalan ini adalah unit 2 pembangunan PT PLN,” demikian Suherman Nazir.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*